ULOS Batak, kain tradisional yang sejak lama menjadi simbol kehormatan dan kesakralan dalam budaya masyarakat Batak, kini mengalami transformasi signifikan. Kain yang dulunya hanya digunakan dalam upacara adat dan momen-momen penting kehidupan ini, kini telah menjadi berbagai produk dan aksesoris modern yang dapat ditemukan di pasar-pasar wisata.
Fenomena komodifikasi Ulos Batak terlihat jelas di sebuah toko suvenir yang menjual beragam produk turunan dari kain tradisional ini. Dari observasi yang dilakukan, terlihat bahwa Ulos tidak lagi hanya berbentuk kain panjang tradisional, melainkan telah ditransformasi menjadi berbagai produk seperti syal dengan tulisan ‘HORAS’ (sapaan khas Batak yang berarti sehat dan sejahtera), gelang tangan, kalung, gantungan kunci, hingga tas dan dompet dengan motif khas Ulos.
Di toko tersebut, seorang pengunjung yang mengenakan jaket hijau dengan Bendera Indonesia terlihat mengamati dan memegang berbagai produk Ulos yang dipajang. Rak-rak kayu di toko tersebut penuh sesak dengan tumpukan kain Ulos berbagai warna dan motif, mulai dari merah, hitam, biru, hingga warna-warna cerah lainnya. Produk-produk ini ditata rapi di rak, sementara berbagai aksesoris seperti gelang dan kalung digantung di samping kain-kain tersebut.
Yang menarik, produk-produk ini tidak hanya menarik minat wisatawan lokal, tetapi juga berpotensi menjadi cenderamata bagi wisatawan mancanegara yang ingin membawa pulang sepotong Budaya Batak. Syal ‘HORAS’ yang menampilkan motif tradisional Batak dengan dominasi warna merah dan hitam, misalnya, menjadi salah satu produk yang paling menonjol. Motif geometris khas Ulos yang penuh makna filosofis kini dikemas dalam bentuk yang lebih praktis dan mudah dibawa.
Transformasi Ulos menjadi berbagai aksesoris kecil seperti gelang dan kalung menunjukkan upaya pelaku usaha untuk membuat produk budaya ini lebih terjangkau dan berbagai kalangan. Jika dulunya Ulos adalah barang mewah yang hanya dimiliki oleh keluarga-keluarga tertentu dan digunakan dalam momen sakral, kini siapa saja bisa memiliki ‘sepotong’ Ulos dalam bentuk aksesoris dengan harga yang relatif terjangkau.
Namun, fenomena komodifikasi ini juga memunculkan pertanyaan penting tentang pelestarian nilai sakral dan filosofis Ulos. Di satu sisi, transformasi ini membantu memperkenalkan Budaya Batak kepada khalayak yang lebih luas dan memberikan nilai ekonomis bagi pengrajin lokal. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa makna sakral Ulos sebagai kain yang sarat nilai spiritual dan adat istiadat akan terdilusi ketika ia diproduksi massal dan dijadikan komoditas komersial.
Toko-toko seperti ini kini banyak ditemukan di kawasan wisata Danau Toba dan sekitarnya, menjadi bukti bahwa industri kreatif berbasis budaya lokal terus berkembang. Para pedagang berupaya menghadirkan inovasi produk yang tetap mempertahankan identitas visual Ulos, sambil menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar modern yang menginginkan produk praktis, estetis, dan memiliki nilai cerita.
Keberadaan produk-produk turunan Ulos ini juga mencerminkan dinamika budaya yang terus berubah mengikuti zaman. Generasi Muda Batak yang mungkin tidak lagi menggunakan Ulos dalam konteks tradisional, kini dapat mengekspresikan identitas budaya mereka melalui aksesoris modern yang tetap membawa elemen visual Ulos. Ini menjadi cara baru dalam melestarikan warisan budaya sambil tetap relevan dengan gaya hidup kontemporer. (Hod Burju Pakpahan – mahasiswa Prodi Sastra Batak Fakultas Ilmu Budaya USU)

